Jumat, 04 Maret 2011

merindunyaa...........


aku....... merindunyaa.......

aku hanya ingin berakata,
bahwa saat ini aku merindunya...

ya Allah.....
sampaikan rasa rinduku ini untuk semua orang yang aku sayang.....



-ketika rindu itu datang kembali-

Selasa, 01 Maret 2011

bukan sekedar 'bersabar'......(part 2)

subhanallah wal hamdulillah.....
baru saja kemarin lusa aku menulis target2 ku...


Maret = nge-lab
April = sempro
Mei = selesai nge-lab , ..........
Juni = Semhas, ......, dan .......
Juli = Compre
Agus = ..........
Sept = ..........
Okt = .........
Nov = ..........
Des = .........


barusan ibunya bilang bahwa aku belum boleh nge-Lab dulu sebelum Sempro....sdgkan sempro baru dibuka pendaftarannya 3 minggu lagi.....inti dari pertemuanku tadi adlaah speerti itu....
trs nge-labnya...??
semhas-nya....??
target ku....??
ingin bgt mngeluarkan semuanya saat itu....
kenapa selalu saja adaaaa ajaa cobaannya....
mulai dari yg sebelum KKN,sampai sudah masuk semester 8....
apa aku memang belum boleh lulus tepat waktu...?? T_T
dan pertanyaannya kemudiaan adalah....

"kenapa yg lain boleh dan aku belum booleh...??, padahal yg lain juga belum sempro....??ibunya bilang harusnya sempro dulu....." hiks..hiks....hiks.....

beginilah cara Allah mencintai hambaNya...
bismillah......
jk memang ini yang terbaik maka aku ikhlas...
kuatkan aku ya ALlah......


di perpus aku mencari-cari refrensi yang tepat yang bisa menguatkan proposalku....
dan trnyata tidak boleh di foto copy....
padahal d perpus pusat dan jurusan boleh....=(
akhirnya ku catat bagian2 yang memang kubutuhkan..ex : alur penulisan, metode....dll
saat sedang berkutat dengan 2 skripsi yang terus kubolak-balik halamannya sambil mendengarkan lagu
yg masih tetap sama',,,tiba2....

"treettt......terrrtt........"
HP ku bergetar tanda panggilan masuk,, "papa" "Assalamu'alaikum........................"
dan di awal bilang bahwa papa sudah mentransfer uang bulananku...
dan tidak lupa aku tanya papa ada dimana dan bagaimana waktu mang ai kemarin.....

hari Minggu kemarin aku di telp bahwa Mang Ai meninggal.....adik papaku yang ke 5 (InsyaAllah)...
Mang-ku yg dulu tinggal di malang dan akhirnya taun kemarin harus pindah karena penyakit Diabetesnya yg semakin parah sehingga harus mendapatkan perawatan lebih intensif di Bandung....aku kurang tau kabar terakhirnya memang, tapi sewaktu aku pulang dalam satu minggu mang ai harus cuci darah 2 x yang tmn2 pasti tau bahwa itu bukan uang yang kecil...semoga mang ai dikuatkan dan diberikan yg terbaik,,,doaku saat itu....
Mang-ku yang selalu saja menggodaku dengan berbagai berita miring kepada papa-ku ketika aku pulang...walaupun aku tau bahwa itu smuanya hanya candaann...

ex : sewaktu aku mau pulang ke Bdg, aku naik bis pahala kencana yg ternyata di dalamnya juga ada Mang Ai juga mau ke Bdg utk urusan sesuatu (lupa apa ya...),,pokonya intinya aku akhirnya satu bis dan bersebelahan dengan beliau...
dan masa waktu di rumah, beliau bilang ke papa,," Masa a' (Mang Ai panggil papaku aa), c ade nangis2 waktu mau berangkat dari Malang...di bis nangis2 waktu ditinggalin pacarnya...padahal cm g akan mlm mingguan 1-2x,,tp kaya mau pisah lama aja....." sambil senyum2 gak jelas gituu...
aku cm berkata,

"haaaa.......fitnah tu mang ai.........." sambil muka cemberut dan mesem2 gak jelas juga....habisnya ditimpali juga ma Mang ku yang satu lagii....huff..jd de bulan2an Mang2ku.....
padahal sejak akapan aku punya pacar dan dianterin berangkat naik bis sama temen Co-ku....heran kali yaa ponakannya udah gede gini belum juga memperkenalkan 'calon'nya......hehe
yaa...semoga tidak lama lagi......=)
tp sayang tidak bisa mengenalkannya kpd Mang Ai...
hikss...jd sedih inget mang ai,,
smg ALlag mengampuni dosanya dan memebrikan yang terbaik untunya di akhirat....Allahuma amin,

back to topic,,
krn aku gak bisa ikut ke Jkt,aku nanya ke papa gmn kabarnya dion,Odi, dan bi yulit....
papa bilang semuany cukup tegar,,dan yang paling buat papa salut adalah Dion (anak pertama mang ai),
beliau tidak nangis sama sekali dan terlihat tegar....
semoga Allah memberikan rahmat bagi Hamba2Nya yang bersabar....amin
kemudain tiba2 papa bilang,

"de...kamu kapan selesai...??"

kaget tb2 aku ditanya sperti itu....aku jd deg..deg...an juga,,
kemudian papa melanjutkan lagi,

"kalau bisa kamu cepet selesai yaa dek...jangan lama2...dulu nenek pernah bilang kalau cucu2nya harus sekolah semua...dan papa salut sama dion kemarin,,kalau kamu sudah selesai papa ada rencana mau bantu nyekolahin dion....makanya kamu cepet selesai yaa dan jangan lama2................"

subhanallah....hatiku langsung terenyuh.....
ternyata masih ada hak2 orang lain setelah aku,,dan aku tidak boleh menyia-nyiakan itu...
dan aku menjawab,

"iya paa....InsyaAllah semester ini....papa doain juga yaa (sambil menahan dada dan mengingat kejadian tadi pagi...aku hanya bisa berharap bahwa keajaiban dan tangan2 Allah akan datang) ade bisa selesai....."
dan papa menjawab,

"iyya sok papa doain....doain papa juga rezekinya lancar...yah?"

dan beberapa menit kemudian telp itu ditutup dengan "wa'alaikmsslm wr......"


ffiiuhhhhh...............
subhanallah.......
rencana Allah memang tidap pernah bisa ditebak,
kita tidak pernah tau kejadian yang akan menimpa kita besok atau lusa atau minggu depan atau bulan depan atau tahun depan atau ............
yang pasti bertambah pula smenagat utk segera menyelesaikan smuanya, dengan tidak melupakan yang lainnya tentunya, dengan sebaik-baiknya....
yang pasti cobaan kedepan mungkin tidak mudah...tapi juga InsyaAllah tidak sulit dan pasti kita bisa melewatinya,
karena jika tidak maka ALlah tidak akan pernah memebrikannya kepada kita,
"laa yukallifullahunafsan illa wus'ahaa...."
dengan tetap meyakini takdirnya dengan segala keimanan dan kemantapan hati..
bahwa rezeki,jodoh,hidup,mati sudah Allah tetapkan di kitabNya...dan insyaAllah tidak akan tertukar,

siang itu aku lagsung sms sahabtku utk meminjam lapi-nya krn kopi ku masih d RS...
dan malam ini mencoba menyelesaikan semuanya,
besok.....mencoba memasuki ruangan itu kembali...

sekali lagi dengan mengucap,
Bismillahi tawwakaltu Alallah...... ya Allah...hanya Engkau yang paling tau apa yg terbaik utk hambuMu yg hina ini... kuatkan pundak ini utk memikulnya... kuatkan punggung ini utk menopangnya... dan kuatkan kaki ini utk terus menegakkannya... jangan pernah tinggalkan kami ya Allah....




-ketika semakin yakin bahwa QS Al-Ankabut : 2-3 -






bukan sekedar 'bersabar'......(part 1)

pagi ini kusapa dengan mengharap Ridho Allah untuk memudahkan jalan dan niat ini...
Bismillahi tawwakaltu Alallah....

sekitar pukul 08.50 lembaran2 itu sudah aku print, dan bismillah...semoga kali ini sudah bisa disetujui dan aku akan memulai kagiatan rutin di 'kamar' baru (read : Lab)...
aku kembali bersemangat setelah kemarin menjenguk sahabatku di Lab...ternyata temanku sudah nge-Lab semua dan mungkin sudah hampir selesai...T_T
dalam hatiku hanya berkata, "aku kapan....??"
saat itu pula malamnya aku berusaha menyelesaikan yang mungkin (masih) 'salah', yang padahal aku sendiri tidak tau salahnya dimana....
padahal aku sudah memulainya sejak semester 6....padahal aku yg memulai ke dosen duluan dibandingkan teman2ku....padahal aku sudah berusaha.....
tapi....

"hhmmpphh......"(sambil menghela nafas panjang)
manusia hanya bisa berusaha....Allah lah yang memutuskan...dan aku yakin bahwa itu memang yang terbaik...
sambil ditemani SNADA dg 'Cinta Illahi'...yang selalu kuputar dan itu2 saja sejak beberapa hari yang lalu (bahkan ketika menulis note ini..hehe),
pagi itu aku memasuki ruangannya dengan sedikit gugup (kenapa selalu sperti itu ya..??padahal aku sudah belajar dan siap jk2 ditanya sesuatu..yg wlopun blm tentu jg akan ditanya....hehe),,sambil meyakinkan diri dan mengucapkan bismillah akhirnya aku berkata,

"Assalamu'alaikum....maaf ibu mengganggu....apa ibu sibuk...?kalau boleh saya mau konsultasi............................."


.................................................................................................................................................
..................................................................................................................................................
dan ternyata sekali lagi aku harus menghela nafas cukup panjang ketika aku keluar dari ruangan itu sambil menccoba menahan air mataku yg hampir menetes,,

"hhmmpphh.......seperti ini lagi......"

kemudian sambil senyum dan melambaikan tangan teman yang ada di luar ruangan aku segera bergegas pulang dan segera mnyusununya....

tp tiba2 aku lupa bahwa refrensiku ada beberapa yang hilang..akhirnya aku memutuskan untu ke perpus saja....segera kubalikkan arah kakiku dan segera menuju perpus....


-ketika hati semakin mencoba meyakini akan keputusan dan takdirNya adalah yang TERBAIK-








-to be continued-


Sabtu, 26 Februari 2011

[True Story] Kisah Seorang Istri Teladan...

Bismillah Ini ada secuil kisah yang saya kopas dari FB teman dari FB temannya lagi (pokoknya rantainya panjang) Semoga bermanfaat........

********************************


(diceritakan oleh seorang akhwat)


Sore itu, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu. “anty sudah menikah?”. “Belum mbak”, jawabku. Kemudian akhwat itu .bertanya lagi “kenapa?” hanya bisa ku jawab dengan senyuman.. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.


“mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya. “nunggu suami” jawabnya. Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya- tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya “mbak kerja dimana?”, ntahlah keyakinan apa yg meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahuku, akhwat2 seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.

“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” , jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati. “kenapa?” tanyaku lagi.

Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.
Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum. Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat.

“saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing. Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendirilah”.


Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi deman, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk diluar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”

Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yg di usapnya.
“anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700rb/bulan. 10x lipat dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya , ia selalu berkata “umi,,ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah2an umi ridho”, begitu katanya.

Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya
“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami.” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara. “beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.” Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.

“kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo ma jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.


“anty tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. Baigaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah dihadapannya hanya karena sebuah pekerjaan.

Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya.

Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya.


Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anty pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku.


Mengambil tas laptopnya,, bergegas ingin meninggalkannku. Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya.

Sambil mengucapkan salam, meninggalkannku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.



















sumber : www.myquran.org

semoga kita bisa mengambil pelajaran pada setiap keadaan, entah yg terjadi kpd diri kita ataupun orang lain...
dan smg kita bisa menjadi istri solehah...
allahuma amin... ^^

Selasa, 11 Januari 2011

Innalaha ma ana....

aku.......

semakin belajar tentang banyak hal....

bahwa semua yang aku ingini, tidak harus aku miliki....

bahwa semua yang aku minta, tidak harus dikabulkan....

bahwa semua yang aku harapkan, tidak harus tercapai.....


semakin mencoba meyakini jika 'sabar memang tidak ada batasnya',

menanamkan dalam iman dan hati bahwa Allah Maha Melihat,

Allah Maha Mengetahui....

Allah YANG PALING TAU apa yang terbaik untuk umatNya...


tetap berusaha melakukan yang terbaik,,

hasilnya...?

biar Allah yang merancangnya dengan indah....


Nb = try to smile : mode on

^__^


-ketika semakin yakin dengan takdirNya-